Gara-gara Despacito Digilir Teman Setongkrongan... Online
Si C suka metal pagi, si D suka dangdut koplo malam. Si E hanya mau lo-fi hip hop karena katanya buat "nahan galau". Dan ketika satu lagu diputus di tengah jalan—apalagi lagu fenomenal seperti Despacito yang durasinya panjang dan beatnya susah diputus—maka kekacauan total tak terelakkan.
Mereka berdua tertawa. Lalu bernyanyi bersama, fals, tanpa peduli. Lain kali kalau temanmu memotong lagu favoritmu, tarik napas dulu. Ingat, masih ada kopi yang dingin dan es teh yang manis. Jangan rusak malam hanya karena sebuah lagu. Tapi kalau dia putar Despacito tiga kali berturut-turut... mungkin saatnya cari tongkrongan baru.
Si B, yang masih merasa benar karena prinsip "ini giliran gue", memutar lagu kedua: Despacito (Remix) featuring Justin Bieber. Gara-gara Despacito Digilir Teman Setongkrongan...
Malam Jumat di pinggir jalan yang macet. Di bawah satu-satunya lampu taman yang masih menyala, lima anak muda duduk melingkar. Di atas meja kayu lapuk: tiga gelas es teh manis, dua kopi tubruk, dan satu ponsel murahan yang speaker-nya sudah sedikit serak. Suasana damai itu runtuh dalam sekejap. Penyebabnya? Sebuah lagu. Bukan lagu sembarangan. Despacito .
Di era digital, ketika playlist pribadi begitu mudah diakses, kemampuan berkompromi saat nongkrong menjadi ujian sesungguhnya kedewasaan. Bukan materi, bukan mobil mewah, bukan pekerjaan; . Si C suka metal pagi, si D suka dangdut koplo malam
"Enggak. Ini prinsip," kata Si A, tangannya sudah di atas motor. "Gara-gara Despacito digilir seenaknya, gue jadi sadar: kita tidak punya kode etik yang jelas soal rotate lagu."
Namun sistem ini rapuh. Sangat rapuh. Sebab tidak ada dua orang yang memiliki selera musik yang sama persis dalam satu geng. Mereka berdua tertawa
"Iya, tapi udah digilir. Giliran gue sekarang," jawab Si B polos, sambil mengangguk-angguk mengikuti irama Despacito .